Translate

Selasa, 03 September 2013

Asma' binti Abu Bakar



ASMA’ BINTI ABU BAKAR
wanita berjiwa agung


Asma’ binti Abu Bakar, adalah contoh isteri yang baik. Ibu yang pemberani, dan wanita yang cerdas. Ayahnya, adalah khalifah pertama pengganti Rasulullah.
Suaminya, bernama Zubair bin Awwam, pembantu Rasulullah. Termasuk salah seorang sahabat yang diberitakan jaminan sorga. Meski waktu itu ayah Asma’ tergolong orang cukup berada, tetapi suaminya tergolong orang miskin yang tidak mampu membayar pelayan untuk mengu­rus kuda dan untanya.

Sejak kecil, Asma’ selalu dimanjakan oleh ayahnya. Ia mempunyai kedudukan tinggi di dalam rumah. Sebagai is­teri, ia sangat setia kepada suami. Bahkan selalu menyiap­kan makanan kuda dan unta sang suami. Menumbuk biji kurma sendiri, menimba air untuk keperluan rumah tangga dan memberi minum hewan miliknya. Asma’ sangat biasa mengangkut biji kurma di atas kepalanya dari tempat yang jauh, hingga kemudian ayahnya mengirim seorang sahaya perempuan yang menggantikan tugasnya merawat kuda dan unta.

Sebagai anak seorang khalifah, Asma’ selalu hidup zuhud dan’ pemurah. Selalu berbuat baik, dan tinggi kepedulian sosialnya. Pernah suatu ketika ia merasa sakit. Lalu segera membebaskan hamba sahaya perempuan pem­berian ayahnya sebagai sedekah. Dan sekaligus sebagai amal kebajikan. Karena memang, sebagian dari obat penya­kit adalah sedekah. Dan dia telah berwasiat kepada para wanita dan puteri-puterinya, “Keluarkan sedekah, dan ja­ngan menunggu hingga ada kelebihan.”
Selama berumah tangga dengan Zubair, ia telah mela­hirkan anak bernama Abdullah, Urwah, Ashim, Muhajir, Khadijah, Umu Hasan, dan Aisyah. Anak-anaknya, me­warisi sifat kepahlawanan ayahnya dan kemuliaan ibunya.

Mengirim Ke Gua
Asma’ hidup dalam usia yang panjang. Ia menyaksikan berbagai peristiwa, sejak pertama kali Islam diserukan, sam­pai mendapat tantangan, dan akhirnya memperoleh ke­jayaan. Jadi, susah payahnya Rasulullah dalam menyerukan Islam benar-benar telah ia hayati, karena Abu Bakar ayahnya adalah sahabat Nabi paling dekat.
 
Suatu hari Rasulullah datang ke rumah Abu Bakar. Dan kedatangan Rasulullah itu di luar kebiasaan. Asma’ melihat kedatangan Rasulullah, lalu bertanya,”Ayah dan ibuku men­jadi tebusanmu, ya Rasulullah. Mengapa anda datang di saat seperti ini?” Sambil berbisik, Rasulullah bersabda, “Allah telah mengizinkan aku untuk hijrah ke Madinah. Abu Bakar lalu menyiapkan dua kendaraan, satu untuk Rasulullah dan satunya lagi untuk Abu Bakar sendiri. Tanpa setahu orang Quraisy mereka berangkat. Mereka berjalan di tengah malam, dengan maksud menghindari gangguan dan ancaman kaum kafir Quraisy. Dengan bekal secukupnya, mereka berlindung di sebuah gua di puncak jabal Tsaur. Begitu mencekamnya suasana di dalam gua. Karena perjala­nan mereka dibuntuti orang-orang Quraisy. Abu Bakar sem­pat cemas dan takut. Maka turunlah wahyu sebagaimana ditegaskan di dalam Al-Qur’an ayat 40 Surat At-Taubah, “Janganlah kamu bersedih dan merasa takut. Sesungguhnya Allah beserta kita”.

Orang-orang Quraisy mengetahui kedua orang yang bersahabat itu meinggalkan Makkah. Tapi, tidak ada yang tahu dimana tempat persembunyiannya. Satu-satunya orang yang mengetahui tempat persembunyian Rasulullah dan Abu Bakar, adalah Asma’. Tetapi ia tetap meraha­siakannya. Bahkan secara rahasia pula, Asma’lah yang mengirim makanan dan minuman kepada dua orang yang bersahabat itu selama beberapa hari tinggal di dalam gua.

Sebagai gadis yang cerdas, Asma’ juga melakukan penyelidikan dan mencari informasi tentang situasi kota Makkah, yang sedang dikuasai orang-orang Quraisy. Dan mencari informasi pula tentang situasi kota Madinah, tem­pat dimana kaum Anshar siap menerima hijrah kaum muslimin. Tugas sebagai intel ini dibantu oleh Abdullah bin Abu Bakar, saudara lelakinya. Dan kemudian Asma’ sendiri yang meneruskan informasi itu kepada Rasulullah dan ayahnya yang berada di dalam gua.

Suatu hari, Abu Jahal mengetuk pintu rumahnya. Asma’ tahu maksud kedatangannya. Dan tahu persis akan kebengisan serta kekerasan tamunya. Sebagai gadis yang beriman, ia tidak gentar menghadapi Abu Jahal. Dengan penuh keimanan dan ketabahan, ia sambut kedatangan musuh bebuyutan Rasulullah itu. Lalu Abu Jahal menanya­kan di manakah Muhammad dan ayahnya berada. Asma’ menjawabnya dengan tegas, bahwa ia tidak tahu. Dengan beringas Abu Jahal mengulangi lagi pertanyaannya dengan disertai ancaman. Namun Asma’ tetap menjawab tidak tahu.

Habislah sudah kesabaran Abu Jahal menghadapi seorang gadis bernama Asma’. Dengan geram dia melayang­kan tamparan yang keras ke arah pipi Asma’ hingga anting­-antingnya terlempar. Tapi, Asma’ tetap merahasiakan tempat persembunyian Rasulullah dan ayahnya. Dengan memberi ancaman, Abu Jahal meninggalkan Asma’ yang terluka.
Peristiwa itu terdengar oleh telinga orang-orang Quraisy di Makkah. Bukan sekali itu Abu Jahal bertindak kejam dan bengis. Dulu, Sumayyah (ibu Ammar bin Yasir) juga mati ditusuk lembing oleh Abu Jahal, karena Su­mayyah menyatakan masuk Islam. Ia adalah wanita per­tama yang mati syahid dalam Islam. Untung sekali, hal itu tidak menimpa diri Asma’.

Atas jasa Asma’, Rasulullah dan Abu Bakar bisa sampai di Madinah dengan selamat. Kaum Anshar menyambut po­sitif kedatangan mereka, dan mendukung perjuangannya dengan jiwa, raga, dan harta. Tak lama kemudian, Asma’ menyusul ke Madinah bersama kaum muhajirin yang lain, dan kemudian tinggal di Quba’.
Di Madinah, Asma’ melahirkan seorang putera, ber­nama Abdullah. Lalu Asma’ membawa bayi itu menghadap Rasulullah, kemudian beliau meletakkannya di atas pangkuan, seraya mendoakannya. Abdullah adalah bayi pertama yang dilahirkan di dalam Islam, sesudah hijrah ke Madinah.

Buta Mata
Asma’ dikaruniai hidup panjang, walau matanya telah buta. Ia mengalami zaman pemerintahan Khulafaur-Rasyidin sampai dengan zaman pemerintahan Abdul-Malik bin Marwan, khalifah Bani Umayah. Ketika timbul pertikaian antara khalifah dengan putera Asma’ (Abdullah), Abdul-Malik menyerbu Hijaz dengan kebengisan panglima Hajaj. Pasukannya menyerang pelosok Umul-Qura. Bahkan meriam pelontar batu ditembakkan ke arah Abi Qubais un­tuk menghantam Ka’bah Baitullah.

Abdullah bin Zubair putera Asma’, terus maju melawan Hajaj, hingga ia ditinggalkan oleh kaum dan kerabatnya. Dan Hajaj sempat pula menjanjikan jabatan gubernur di Makkah, jika saja Abdullah mau meletakkan senjata dan membaiat Abdul-Malik sebagai khalifah.

Abdullah kemudian bermusyawarah dengan Asma’, ibunya. Namun sang ibu menasehati agar tidak menyerah, meski sudah ditinggalkan kaum dan kerabatnya. “Engkau berada dalam kebenaran, wahai anakku. Teruskanlah per­juanganmu. Karena jika engkau menyerah, maka akan dipermainkan oleh anak cucu Bani Umayah.” Tutur Asma’ kepada anaknya.

Merasa akhir hidupnya sudah dekat, maka Abdullah menyatakan kecemasannya kepada sang ibu atas pernyataan dan tekad dari musuhnya yang akan memotong-motong tubuhnya setelah dibunuh. Maka Asma’ menjawab; “wahai anakku Abdullah, sesungguhnya kambing yang disembelih tidak akan merasakan sakit ketika dikuliti.”

Dengan dorongan semangat itu, majulah Abdullah melanjutkan perang melawan Hajaj. Abdullah kalah, setelah tewas dibunuh, mayatnya di salibkan. Pada saat itu datanglah Asma’ menghampiri puteranya di tiang salib. Dengan mata yang buta, tangannya meraba jasad anak laki – lakinya dengan penuh ketabahan dan kesabaran. Dengan hati dan lisan yang lantang ia berkata, “Tidakkah sudah tiba waktunya pengendara ini di turunkan.” Ujarnya mengejek kebengisan Hajaj.
(sumber : Namadzijul Mar-atil Muslimah)

Selasa, 23 Juli 2013

Pembinaan Umat



MUHAMMADIYAH DAN PEMBINAAN UMAT
Oleh: Wahyu Purhantara

A.   Tantangan Dakwah
Ada beberapa tangtangan dan sekaligus peluang dalam aktivitas dakwah ke depan. Dulu anak-anak rajin mengaji habis Maghrib. Sekarang belum shalat Maghrib sudah dicokok dengan tayangan sinetron di televisi.
Keprihatinan juga datang dari Pakar Tafsir Al-quran Indonesia, Quraish Shihab. Ia mengatakan enggan nya generasi muda Islam membaca dan mempelajari Al-quran memang sangat memprihatinkan.
Disamping kondisi realitas itu, terdapat juga problema dakwah yang lain. Pertama, problema kehidupan masyarakat semakin komplek. Kompleksitas kehidupan itu terkait dengan perubahan sosial politik, terutama pasca reformasi. Perubahan alam pikiran yang cenderung pragmatis, materialistik, hedonis dan individualistik. Problema lain terkait dengan penetrasi budaya asing, multikulturalisme dan globalisasi informasi.
Kehidupan umat Islam yang semula lebih berorientasi pada idealisme bergeser menjadi cenderung berorientasi pada nilai guna dan manfaat individual semata. Idealitas sering terabaikan, digantikan dengan kecenderungan pragmatisme kehidupan yang berorientasi pada pemuasan dan perolehan serta kesenangan terhadap hal-hal yang bersifat materi.
Muncul pula kecenderungan pemikiran dan gerakan yang semakin radikal baik yang berasal dari dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri. Yang berasal dari dalam negeri misalnya NII (palsu) yang gentayangan di sekolah dan kampus untuk melakukan rekrutmen anggota.
Dalam kehidupan aqidah umat juga ditemukan semakin hidup suburnya takhayyul dan khurafat. Fenomena dukun cilik ”mbah” Ponari yang dikunjungi oleh puluhan ribu manusia untuk dimintai berkah, menunjukkan masih (atau malah bertambah) kuatnya takhayyul dan khurafat itu. Merajalelanya budaya merti dusun.
Berkembangnya berbagai kepercayaan selain Allah seumpama percaya kepada dukun, tukang ramal, berhala politik dan tuhan-tuhan palsu lain yang secara potensial dapat menyesatkan dan memperdayai umat.
Pola kehidupan ibadah umat Islam juga masih belum sepenuhnya sejalan dengan tuntunan Nabi saw. Penyalahgunakan aktivitas doa umpamanya baik untuk kepentingan poliitis maupun bisnis dengan mudah dapat dijumpai.
B.   Orientasi Dakwah
·     Pertama, Bermodal utama tauhidullah (pengesaan Allah), Misi kenabian Ibrahim a.s.. dan Muhammad s.a.w., umpamanya, adalah merupakan upaya membebaskan masyarakatnya dari ketergantungan hidup kepada selain Allah. Dengan tauhidullah pula, masyarakat diserukan untuk tidak percaya kepada para dukun, tukang ramal, berhala politik, dan tuhan-tuhan palsu lainnya yang menyesatkan dan memperdayai. Jadi, tauhidullah harus ditindaklanjuti dengan tauhid al-ibadah (unifikasi ibadah) dan tauhid al-ummah (penyatuan umat) menuju pembentukan khaira ummah (umat terbaik) yang selalu tampil membela dan melayani kepentingan umat manusia.
Kedua, aktivitas dakwah diorientasikan kepada terwujudnya visi Muhammadiyah; Secara garis besar, masyarakat Islam yang dicita-citakan oleh Muhammadiyah mempunyai beberapa karekteristik sebagai berikut:
·     Pertama, saling mengingatkan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keseharian umat.
·     Kedua, peduli dan saling memberdayakan (jasad dan bunyân).
·     Ketiga, mempunyai sikap welas asih, tidak keras kepala, pemaaf, mempunyai dan mengembangkan tradisi syura dalam menyelesaikan berbagai masalah dan melibatkan Allah dalam segala aktivitas dengan keyakinan Allah akan memberikan yang terbaik dan termaslahat QS. Ali ‘Imran, 3:159 dan 191).
·     Keempat, berjiwa ‘izzah (pede) terhadap siapaun, termasuk yang tidak seaqidah dan mengaitkan segala aktivitasnya dalam kerangka perwujudan mencari ridha dan ekepresi cinta kepada Allah dan rasul-Nya (QS. Al-Maidah, 5: 54).
·     Kelima, berpaham keagamaan moderat dan dapat memberikan teladan; tidak ke kiri dan tidak pula ke kanan; tidak kaku dan tidak pula permisif dalam menjalankan syariah (QS. al-Baqarah, 2: 143 dan QS al-Fatihah, 1: 6-7). Semangat keberagmaannya adalah kepasrahan dan siap diatur oleh Islam (QS al-Baqarah,  2: 128).
·     Keenam, dalam memahami agama juga mencerminkan pandangan tengah; ada integrasi antara tekstualitas, kontekstualitas dan historisitas.
·     Dan ketujuh, pandangannya terhadap kehidupan dunia mencerminkan sikap tengahan.
Kehidupn dunia sebagaimana dalam QS. An-Naml, 27: 77, dipahami bersifat integratif; Kebahagiaan hidup di akhirat hanya dapat diwujudkan dengan fasilitas yang ditawarkan oleh kehidupan di dunia. Dunia tempat menanam dan akhirat tempat segala yang ditanam di dunia dipanen. Tidak ada sikap tenggelam dalam kenikmatan materi dengan mengabaikan kehidupan spiritual. Sebaliknya, tidak ada sikap hanya tenggelam dalam kehidupan spiritual dengan mengabaikan kehidupan dunia.

C. Model dan Strategi Dakwah
Untuk kepentingan dakwah ke depan, di samping secara terus menerus mengoptimalkan aktivitas yang sudah ada, beberapa pilihan dapat dilakukan Muhammadiyah untuk menyampaikan pesan-pesan dakwah.
Pertama, melakukan revitalisasi keluarga. QS al-Hasyr, 66: 7 menegaskan keharusan memelihara dan menjaga diri dan keluarga. Artinya, perintah untuk melakukan revitalisasi dakwah secara terus menerus dan berkelanjutan dari diri dan keluarga. Keluarga, sebagimana dipandukan dalam Pedoman Hidup Islami Muhammadiyah, difungsikan sebagai (1) media sosialisasi nilai-nilai ajaran Islam (2) kaderisasi; sebagai pelansung dan penyempurna gerakan da’wah, (3)  sebagai media pemberian keteladanan dan pembiasaan amal Islami, dan (4)  media penciptaan suasa dan kehidupan islami dalam bentuk membangun pergaulan yang saling-mengasihi, menyayangi, saling-menghargai danmenghormati, memelihara persamaan hak dan kewajiban.
Kedua, optimasi mesin persyarikatan dalam bentuk pemberdayaan ranting dan amal usaha secara maksimal sebagai media dakwah. Pimpinan persyarikatan dan pimpinan amal usaha baik bidang pendidikan, kesehatan dan sosial secara aktif dan sungguh-sungguh berkerja sama mengefektifkan gerakan dakwah di ranting dan amal usaha.
Ketiga, sebagai telah diungkapkan di atas tentang kedahsyatan pengaruh media elektronik dan teknologi informasi dalam membentuk pola pikir dan prilaku masyarakat, merupakan keniscayaan dakwah Muhammadiyah memanfaatkan media elektronik dan teknologi informasi. Saatnya Muhammadiyah mulai berdakwah melalui dunia maya sumpama lewat facebook, blog dan lain-lain. Dalam pemanfaatan media elektronik, mungkin Muhammadiyah dapat mengambil bagian dalam mengisi acara tertentu di televisi lokal yang pada masa mendatang akan banyak dikembangkan.\
Keempat, menjadikan maal sebagai objek dakwah. Munculnya mal baru sesungguhnya memberikan peluang untuk berdakwah, sekurang-kurangnya untuk membantu pengunjung maal melaksanakan shalat jum’at. Bagi Muhammadiyah, ini merupakan lahan dakwah yang relatif strategis. Di antara jama’ah, ada berasal dari kalangan menengah atas. Dari mereka dapat dikembangkan jaringan di kalangan masyarakat menengah atas yang belakangan banyak dikuasai oleh kelompok lain.
Kelima, melakukan sinergi dengan berbagai majlis dan lembaga di lingkungan Muhammadiyah. Sebenarnya Muhammadiyah mempunyai obyek dakwah yang tidak pernah kering. Mereka datang ke Muhammadiyah, baik ketika sakit yang ditampung oleh balai pengobatan Muhammadiyah, atau sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah. Selama ini, mereka belum secara maksimal dijadikan sebagai obyek dakwah betapapun Muhammadiyah telah menegaskan semua amal usaha yang dimiliki adalah media dakwah Muhammadiyah. Sinergi dengan berbagai majlis dan lembaga dapat membantu terselenggaranya aktivitas dakwah secara maksimal.

Yogya, 14 Romadhon 1434


Disarikan dari:
Abd. Fattah Wibisono,. dalam http://z4lf4.wordpress.com/2010/01/10/model-dan-strategi-dakwah-muhammadiyah-dalam-pembinaan-ummat

Bahaya Melupakan Ak Qur'an



BAHAYA MELUPAKAN AL-QURAN
 Oleh: Wahyu Purhantara


Kita sering membaca atau mendengar kuliah tentang kelebihan dan kebaikan yang bakal diperolehi dengan membaca dan mengamalkan kandungan Al-Quran. Memang tidak dapat dinafikan bahawa kita perlu mengetahui kesan-kesan baik dengan melaksanakan segala kandungan Al-Quran.
Namun sejauh manakah tahap amalan kita terhadap tuntutan Al-Quran itu dilaksanakan. Sekiranya dikira dengan memberikan peratusan, angka berapakah yang kita perolehi daripada 100? Sama-samalah kita menganalisanya.
Disamping kita mengetahui kebaikan dan ganjaran atas segala perbuatan kebaikan dan kebajikan terhadap tuntutan Al-Quran, adalah amat wajar juga untuk kita mengetahui kesan buruk dan bahaya melalaikan atau melupakan Al-Quran. Apakah lagi meninggalkan terus Al-Quran, semoga dijauhkan.
Sebenarnya amat banyak kesan buruk yang akan menimpa manusia sekiranya mereka melupakan atau meninggalkan tuntutan Al-Quran. Kesan bahaya ini mungkin terkena kepada individu, komuniti masyarakat atau negara mengikut keadaan dan peringkat tuntutan Al-Quran itu sendiri.

1. Buta matahati (Qoswatul Qulub)
Al-Quran merupakan petunjuk bagi manusia di dunia ini. Siapa yang melupakan dan meninggalkannya tidak akan dapat melihat kebenaran Allah kerana matahatinya telah gelap dan ditutupi daripada cahaya kebenaran.
“Maka tidak pernahkah mereka berjalan di bumi, sehingga hati (akal) mereka dapat memahami, telinga mereka dapat mendengar? Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada” (al-Hajj: 46)

2. Keras hati
Hati yang jauh dari petunjuk Allah menjadi keras dan sukar untuk menerima kebenaran sehingga disifatkan oleh Allah lebih keras daripada batu.
“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk secara khusyuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka), dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan ramai diantara mereka menjadi orang-orang fasik” (al-Hadid: 16)

3. Sempit dada
Apabila kita bergantung kepada salain Allah (makhluk) maka kita akan bergantung kepada sesuatu yang lemah dan tidak memiliki apapun. Kita akan merasa sempit apabila bergantung selain kepada Allah apabila tidak mampu memenuhi kehendak dan keinginan kita.
“Barangsiapa yang dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendakiNya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak…” (al-An’am: 125)

4. Lupa terhadap diri sendiri (An Nisyaan)
Hubungan Allah dengan hamba-hambaNya begitu dekat. Apabila hamba dekat kepadaNya maka Allah lebih dekat lagi. Tetapi apabila hamba melupakan Allah, maka Allah akan melupakan hambaNya, bahkan menjadikan mereka lupa akan diri mereka sendiri.
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik” (al-Hasyr: 19)

5. Fasiq
Fasiq merujuk kepada golongan yang keluar dari batasan-batasan yang telah ditentukan oleh Allah swt. Apabila kita melupakan Al-Quran atau meninggalkannya, maka kita telah berada di luar batasan Allah swt sedangkan semua itu disebutkan dan diperingatkan di dalam kitabNya.
“Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bahawa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpaan ini? Dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkanNya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberiNya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik” (al-Baqarah: 26)

6.    Bershahabat dengan Syaithon (Syuhbah As-Syaithon)
Syaithon senantiasa mencari-cari peluang untuk menyesatkan manusia melalui cara apapun.  Siapa yang meninggalkan atau melupakan Al Qur’an maka Allah berjanji akan mengadakan baginya Syaithon lalu syaithon itu menjadi shahabatnya.  Allah berfirman dalam surat Az-Zukhruf ayat 36 yang artinya: “Barangsiapa yang berpaling dari peringatan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syathon, lalu syaithon itu menjadi temannya.”

7. Kehidupan serba sulit (Ma’iisyatan Dhanka)
Allah swt telah berjanji bahawa siapa yang berpaling dari ajaran yang telah dibawa oleh nabi saw akan menerima balasan dalam kehidupannya. Kerana petunjuk selain dari Allah mempunyai kekurangan dalam setiap sisi.
“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta” (Taha: 24)

8. Zalim dan hina (Zhulmun wa Dzil)
Apabila kita lari dari keadilan yang ditunjukkan oleh Allah maka tempat untuk kita adalah kezaliman kerana kita telah meletakkan sesuatu tidak pada posisi yang sepatutnya menurut apa yang dikehendaki Allah. Kebergantungan kepada selain Yang Maha Pencipta yaitu makhluk akan melahirkan kehinaan.
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat TuhanNya, kemudian dia berpaling darinya? Sungguh, Kami akan berikan balasan kepada orang-orang yang berdosa” (as-Sajdah: 22).

9. Nifaq
Nifaq adalah sifat yang berbahaya bagi masyarakat dan bagi individu tersebut. Hal ini kerana orang tidak mengetahui mereka dengan baik, kerana pada zahirnya mereka seperti orang (muslim) lain. Tetapi Allah Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati-hati mereka. Rasulullah saw menceritakan sifat atau cirri-ciri nifaq dan meminta kita menjauhinya.
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) kepada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,” (nescaya) engkau (Muhammad) orang munafik menghalangi dengan keras darimu” (an-Nisa’: 61)

10. Sesat (Dhalaalun Mubiin)
Petunjuk yang diturunkan oleh Allah swt adalah petunjuk yang jelas kebenaran. Dinyatakan satu persatu oleh Allah swt hakikat-hakikat kebenaran ini dengan bukti-bukti yang begitu jelas sehingga tidak ada lagi alasan bagi mereka untuk berpaling setelah mereka mengaku beriman, kecuali keingkaran mereka terhadap hakikat yang begitu jelas yang terbukti di hadapannya. Inilah yang disebutkan kesesatan yang nyata.
“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahawa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih inginkan ketetapan hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya” (an-Nisa’: 60)

Amalan untuk masuk sorga



MODAL MASUK SURGA DENGAN AMALAN SUNNAH
Oleh: Wahyu Purhantara

Dalam pembahasan Hadits Arbain Nomor 29 bagian ketiga dijelaskan bahwa menyembah Allah swt tanpa syirik adalah modal pertama dan utama untuk masuk surga. Juga telah disebutkan beberapa modal lain yang mesti dilakukan, yaitu komitmen dengan ibadah-ibadah fardhu, khususnya rukun Islam, yaitu shalat, zakat, puasa dan haji.
Hadits ini juga mengisyaratkan adanya ibadah-ibadah sunah yang bisa dijadikan modal tambahan untuk memantapkan posisi kita di surga. Amalan-amalan sunah yang disebutkan oleh hadits ini adalah:
1.     Puasa sunah. Rasulullah saw menjelaskan, berpuasa memiliki fungsi sebagai junnah, yang berarti perisai atau tameng. Sebab puasa memang dapat menjaga pelakunya agar terhindar dari kubangan syahwat. Dengan demikian, di dunia ia terhindar dari dosa dan maksiat, di akhirat ia terbebas dari neraka. Untuk itulah Rasulullah saw dalam hadits lain menjelaskan, “Puasa itu junnah, oleh karena itu janganlah seseorang berkata kotor (jorok), tidak berbuat bodoh, dan jika ada seseorang memerangi atau mencelanya, hendaklah ia berkata, ‘Saya sedang berpuasa,’” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Bukhari [1894]).

2. Bersedekah. Rasulullah saw menjelaskan bahwa sedekah dapat memadamkan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mampu memadamkan api. Ada beberapa hadits yang menjelaskan sebagian dari maksud dan makna hadits ini, di antaranya:
a.     Dari ‘Uqbah bin ‘Amir ra, Rasulullah saw bersabda, “Bahwasanya sedekah dapat memadamkan(mendinginkan) pelakunya dari panasnya azab kubur, dan bahwasanya seorang mukmin itu pada hari kiamat nanti akan berteduh di bawah naungan sedekahnya,” (HR At-Thabarani dalam Al-Mu’jam al-Kabir, juga oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan dinilai shahih oleh Syekh Albani [lihat Silsilah Hadits Shahih, no. 3484]).
b. “Sedekah yang dilakukan secara rahasia dapat memadamkan kemurkaan Allah swt,” (HR At-Thabarani dalam al-Mu’jam Ash-Shaghir dan dinilai shahih oleh Syekh Albani dalam Silsilah Hadits Shahih no. 1908).
Dan di antara makna “sedekah memadamkan kesalahan” adalah bahwa sedekah itu dapat menghapus kesalahan dan keburukan, sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-Baqarah [2]: 271.

3.     Shalat malam. Rasulullah saw menjelaskan bahwa manfaat shalat malam pun seperti manfaat sedekah, yaitu dapat menghapus kesalahan. Hal ini diperkuat oleh riwayat lain, “… Bahwasanya puasa itu junnah, sedangkan sedekah dan qiyamullail itu menghapus kesalahan,” (HR Ahmad). Dan tersebut dalam hadits lain, “Konsistenlah dalam melakukan qiyamullail, sebab ia adalah tradisi orang-orang saleh sebelum kalian, dan ia merupakan upaya taqarrub (pendekatan) kepada Tuhan kalian, dan juga menjadi penghapus keburukan dan pencegah dosa,” (HR At-Tirmidzi [3549], dan Syekh Albani menilainya sebagai hadits shahih, lihat Shahih al-Jami’ ash-Shaghir wa ziyadatuhu no. 4079).